Perjalanan hidupku dengannya berperang dengan waktu..menunggu.
Tertatih letih menunggunya dari detik ke detik.
Menanti pikirannya terbuka.
Menanti hatinya seluas samudera.
Menunggunya sadar...
Untuk bertanggungjawab penuh,
Menjadi imam yang baik,
Menghargai waktu dengan bijak,
Menyadari bersih itu indah,
dan..belajar bicara dengan hati, bukan dengan emosi.
Dirinya sandaranku, yang tak bisa membuatku bersandar.
Karena dunianya membuat lupa akan sekelililingnya.
Dunianya membuat lupa akan segalanya.
Aku....menanti dari waktu ke waktu bagai bom waktu yang akan meledak.
Setelah itu...hancur semua, dan usai.